Translate

Kamis, 19 Oktober 2017

Sekilas Penyakit Distemper Anjing & Distemper Kucing & Penghargaan Agro Muda Perkasa dari Pemerintah Australia:) (Australia Embasssy of Indonesia) :)

Selamat pagi temen temen Klinik Hewan Happiness, Maaf tulisan nya telat bulan ini soalnya unit usaha qta yang lain (Agro Muda Perkasa http://agromudaperkasa.blogspot.co.id/ baru dapet Penghargaan dari Pemerintah Australia buat food & feed security) :)

Ini Tulisan bulan ini :)

Semboyan “mencegah lebih baik daripada mengobati”masih relevan untuk selalu diingat. Mencegah adalah upaya yang mudah, murah, dan efektif. Sementara mengobati adalah upaya yang sulit, merepotkan, mahal, dan belum tentu menolong.
Menyaksikan hewan kesayangan sakit merupakan faktor stress tersendiri bagi pemiliknya. Oleh karena hewan kesayangannya menderita, siklus kegiatan pemiliknya sehari-hari seperti bekerja, makan dan tidur ikut terganggu sehingga akibatnya dapat stres. Terlebih lagi kalau penyakitnya sangat menular dan berbahaya sehingga dapat berakibat fatal bagi hewan padahal sebenarnya untuk mencegah sangat mudah, yaitu dengan melakukan vaksinasi yang diulang lagi setiap setahun sekali. Tidak sulit menyediakan waktu setahun sekali untuk melakukan vakksinasi bagi hewan kesayangan Anda.
Pada permulaannya, segala dan tanda umum suatu penyakit adalah sama seperti suhu badan tinggi, tidak ada nafsu makan , mencret, dan muntah sedangkan gejala khasnya belum muncul. Itulah sebabnya dokter hewan di klinik hewan perlu melengkapi data pasiennya dengan penunjang medis melalui pemeriksaan labolatorium sehingga perlu waktu untuk mengetahui penyebabnya. Pada tingkat inilah klien dokter hewan seringkali mengeluh karena tidak diberi tahu jenis penyakitnya atau kalaupun diberi tahu sering berbeda antara dokter yang satu dengan yang lainnya.
Pada tulisan ini akan dikemukakan secara singkat gejala, pengobatan, dan pencegahan beberapa jenis penyakit menular terpenting pada anjing dan kucing. Dengan mengetahui gejala dan tanda-tanda penyakit pada hewan maka hal itu sudah merupakan tindakan P3K. Bila diketahui gejala tersebut merupakan akibat dari penyakit yang sangat berbahaya, Anda dapat denga segera membawa hewan tersebut ke klinik hewan untuk diberi pengobatan.

A.Distemper Anjing (Dog Distemper)
Distemper anjing (canine distemper) disebabkan oleh virus dari golongan paramyxoviridae. Virus ini ada dimana-mana dan mencemari udara, makanan, minuman dan lingkungan. Anjing yang menderita malnutrisi, banyak kutu dan cacingan mudah terserang distemper. Anjing dari gejala umum, terlebih anak anjing akan lebih rawan dan menyebabakan tingkat kematian tinggi akibat penyakit distemper anjing.
1.gejala dan tanda
Gejala permulaan adalah demam (dapat mencapai 40-42oC), depresif, tidak ada nafsu makan, batuk, mencret (kadang berdarah), cermin hidungnya kering dan berkerak, dan keluar belek dari mata. Teracak ujung jari di bawah kuku (telapak kaki) menjadi kering, keras, dan tajam sehingga penyakit ini pun disebut hardpad disease. Anjing yang lebih tua (karena mempunyai kekebalan alami) atau yang pernah mendapat vaksinasi distemper (tetapi sudah kadaluarsa) terkadang dapat mengtaasi stadium ini.
Pada umumnya anjing memperlihatkan gejala-gejala gangguan syaraf Karena virus penyebabnya memang masuk ke dalam jaringan syaraf. Pada stadium ini anjing akan menjadi cacat. Gangguan syaraf lainnya adalah lemah, otot bergetar, sempoyongan, mulut dan lidah selalu mengecap, kejang, hingga menjadi lumpuh. Akibat gejala lumpuh inilah distemper diidentikan dengan polio pada manusia.
Belum ada obat-obatan untuk membunuh virus penyebab distemper anjing sehingga upaya pengobatannya pun hanya ditunjukan untuk menjaga hewan agar tidak terjadi komplikasi karena infeksi sekunder. Upaya tersebut adalah memberikan infuse, antibiotik spektrum luas, roborrantia (mineral dan vitamin) serta gizi yang baik. Selain itu, penderita pun dapat diberikan serum (homoserum) dan dibantu dengan terapi simptometik (pemberian obat berdasarkan gejala yang diperlihatkan) seperti menghilangkan gejala batuk dan mencret.
Tindakan pencegahan paling murah dan efektif adalah vaksinasi distemper secara teratur sejak anjing berumur 6, 8, dan 12 minggu, lalu diulang setiap tahun. Bila anjing di pertama umur 12 minggu, sebaiknya pengulangannya dilakukan 4 minggu kemudian. Selanjutnya vaksinasi diteruskan setiap tahun sekali.
Vaksinasi harus dilkukan oleh dokter hewan Karena profesinya dilindungi oleh undang-undang dan diberi hak. Anjing yang telah divaksinasi akan diberikan serifikat vaksinasi yang berisi identitas anjing, nama vaksin, tanggal vaksinasi, serta nama, tanda tangan, dan stempel dokter hewan.
Virus distemper tidak tahan hidup di luar tubuh dan lingkungan. Mungkin sebulan setelah penderita distemper disingkirkan atau mati, di lingkungan tersebut sudah tidak ada lagi virus yang hidup. Namun demikian, semua peralatan dan kandang bekas korban distemper harus didesinfektan terlebih dahulu sebelum dipergunakan lagi. Kalau akan memelihara atau memasukan anjing baru ke suatu wilayah, sebaiknya mintakan dahulu vaksinasi distemper minimal 2 minggu sebelumnya.

b. Distemper kucing (Cat Panleucopenia)
Distemper kucing (panleucopenia) atau juga disebut radang usus menular (feline infectious enteritis) atau feline agranulocytosis. Penyakit ini disebabkan oleh virus golongan parvoviridae (panleukopenia) yang mengakibatkan penyakit radang alat pencernaan. Tingkat kematian distemper kucing ini sangat tinggi, terutama di antara kucing muda.
Kucing yang terserang penyakit ini awalnya menderita demam dengan suhu badan 41-42oC, depresi hebat, muntah, mencret, dehidrasi, dan nyeri lambung.
Pengobatan dan perawatan ditujukan untuk mengatasi dehidrasi dan infeksi sekunder, yaitu diberi anti biotik spektrum luas serta cairan infus makanan, vitamin dan mineral. Pemberian infus sebagai upaya untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kucing penderita distemper harus dirawat inap (opname) karena memerlukan perawatan intensif.
Pencegahan terbaik,murah,dan efektif adalah melakukan program vaksinasi (seperti pada distemper anjing). Nutrisi imbang dan bebas parasit pun merupakan tindakan pencegahan. Virus tahan hidup bertahun-tahun diluar tuubuh kucing sehingga bila akan memelihara kucing sebaiknya harus sudah divaksinasi paling lambat 2 minggu sebelumnya.



Presentasi di Kedutaan Australia, kuningan, Jak-Sel :)
Gambar 1. Steven Barraclough Ph.D. Ministry Counselor Australia Embassy of Indonesia (pengantar)

Gambar 2,3, dan 4 presentasi di Kedutaan Australia (Australia Embassy of Indonesia) untuk Agro Muda Perkasa, Kuningan, Jakarta Selatan :)
Forum Indonesia Impact Accelerator Investment  Fund Awarding Dinner :)
Gambar 4. Penghargaan dari Australia Embassy of Indonesia untuk Agro Muda Perkasa
Forum Indonesia Impact Accelerator Investment  Fund Awarding Dinner :)
kata kata dr alex, Terimakasih Tuhan, Bapa di Surga, ada berkat sedikit hari ini cukup untuk hari ini
Terimakaassihh Temen Temen Semuanya :)

SURAT TANDA REGISTRASI VETERINER (STRV) NASIONAL  1.02.005901.04.2016.005825
SERTIFIKAT KOMPETENSI DOKTER HEWAN NASIONAL PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) (Lulus) 1.02.2009.010615.04-16.04.2016/KDHI


Sabtu, 30 September 2017

Pengobatan Penyakit Kuda :)

Penyakit merupakan salah satu faktor penyebab yang menurunkan populasi ternak kuda di Indonesia, dalam upaya peningkatan populasi kuda di Indonesia maka perlu dilakukan penerapan manajemen kesehatan pada setiap peternakan kuda. Manajemen kesehatan hewan adalah program penjagaan peternakan dari bahaya penyakit ternak serta faktor-faktor yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada ternak, sehingga diperoleh hasil yang optimal. Faktor keberhasilan penerapan manajemen kesehatan hewan adalah dengan teknik dan metode pemeriksaan secara individual, seperti pemeriksaan klinis. Hasil pemeriksaan klinis dapat menentukan diagnosa suatu penyakit dan terapi yang tepat.

Secara umum, penyakit adalah gangguan kesehatan. Ditinjau dari asalnya, penyakit dapat di kelompokkan menjadi dua kategori, yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi dan penyakit yang disebabkan oleh non-infeksi. Penyakit karena infeksi dapat disebabkan oleh adanya bakteri, virus dan jamur. Sementara itu, penyakit karena non-infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh keadaan tubuh itu sendiri, seperti alergi dan ketidak seimbangan hormon. 

Gambar 1, Teknik penyuntikan pada kuda :) 

Berikut ini adalah macam-macam penyakit yang sering menyerang ternak kuda:
1. Cacingan 
Cacing gelang atau cacing putih (Ascarids) adalah cacing yang hidup pada usus halus dan merupakan parasit terbesar dalam usus tetapi cacing ini tidak menyebabkan kerusakan pada usus. Salah satu jenis cacing gelang yang sering menyerang kuda adalah Parascaris Equorum.

Gejala yang ditimbulkan adalah kondisi kuda tidak tangkas dan mudah lelah, bulu kasar, sering terjadi gangguan pencernaan menumpuk pada usus halus sehingga kuda kelihatan seperti kolik, dan cacing sewaktu-waktu bisa mengganggu hati dan paru-paru.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan, menempatkan kuda belo pada kandang atau lapangan rumput yang bersih, mengumpulkan kotoran pada tempat yang disediakan, serta menyediakan air yang bersih dan segar.

Pemeriksaan telur cacing pada feses anak kuda akan menunjukkan negatif sampai umur tiga bulan sehingga pengobatan akan dilakukan pada saat anak kuda mulai mengkomsumsi rumput dan konsentrat.

Pengobatan dianjurkan menggunakan karbon disulphida atau bisulphida. Obat cacing harus diberikan secara teratur walaupun belum menimbulkan gejala, bila gejala sudah muncul berarti kerusakan pada jaringan tubuh sudah terjadi.

2. Diare 
Diare merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi pada alat pencernaan. Kondisi lingkungan yang tidak kondusif menyebabkan kondisi tubuh menurun, dan suhu tubuh meningkat.

Penyebab diare yang lain adalah alas kandang yang basah dan kontaminasi feses. Diare menimbulkan gejala berupa feses encer, pinggul berlumuran kotoran, kondisi tubuh menurun, lemah, dan kehilangan selera makan. 
Description: Description: Diare pada kuda
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah menjaga kebersihan, mengurangi pakan yang mengandung kadar lemak tinggi dan meningkatkan kandungan serat kasar pada induk, untuk kuda belo pencegahan dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi menyusu, yaitu menyusu secara selang-seling. Diare pada anak kuda memerlukan perhatian khusus, seperti pencucian pinggul dengan air hangat yang diikuti dengan mengolesi minyak agar tidak lecet dan iritasi.

Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian sulfaguanidin dan norit dengan perbandingan 1:4 untuk setiap 40 kg berat badan.

3. Influenza 
Merupakan penyakit pernafasan yang mirip dengan flu pada manusia dan disebabkan oleh salah satu dari delapan virus yang berbeda, yaitu: H2N2, H3N2, H3N2, H7N7, H9N2, H7N2, H7N3, H10N7. 
Gejalanya adalah batuk, mengeluarkan sengau dan terjadinya peningkatan temperatur yang cepat, bisa mencapai 106oF dan berlangsung selama 2-10 hari. Kuda yang terserang dianjurkan istirahat total paling tidak 30 hari. Tersedia vaksin untuk dua jenis virus guna menciptakan immunitas/ kekebalan tubuh. Pengobatan oleh dokter hewan meliputi penggunaan obat-obat antibotik dan sulfa.

Kuda yang paling peka terhadap penularan penyakit ini adalah anak kuda, terutama yang baru lahir karena kekebalan tubuh mereka cendrung rendah, apalagi anak kuda yang mendapat susu buatan. Seekor kuda yang terserang influenza harus beristirahat agar tidak bertambah parah. Peyebaran penyakit ini biasanya melalui kontak langsung dan melalui udara. Lebih banyak menyerang pada anak kuda berumur setahun atau dua tahun.

Gejala utamanya adalah demam dengan suhu 
39,5oC - 41,5oC, mata dan hidung berair, stress, pernafasan cepat, batuk yang keras, kelopak mata berwarna pink kekuningan. Pada tahap yang lebih berat akan terjadi pembengkakan pada kelanjar pangkal tenggorokan (submaxillary lymph), temperatur tubuh yang tidak stabil, hidung mengeluarkan ingus,susah bernafas.


Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi secara berkala. Kekebalan yang di dapat dengan vaksinasi biasanya hanya untuk jangka waktu yang pendek (sekitar 3–4 bulan) dibandingkan dengan kekebalan yang didapat secara alami. Kuda sebaiknya diberi vaksin mulai umur 8–9 bulan. Dilanjutkan setiap 3 bulan sampai berumur 3 tahun. Kekebalan alami dan pencegahan dapat dilakukan dengan perawatan yang baik dan menjauhkan kuda dari keadaan stress.jika suhu tubuh terus meningkat, sebaiknya disuntik antibiotik untuk mencegah terjadinya serangan lebih lanjut oleh bakteri yang dapat menyebabkan pneumunia. Pemeliharaan yang baik; menjaga kebersihan makanan, minuman, peralatan dan lingkungan juga dapat menghambat penyebaran influenza terhadap kuda.

4. Kolik 
Gangguan pencernaan ini disebabkan oleh makanan yang berlebihan, minuman berlebihan pada waktu panas, makanan berjamur dan bahkan oleh infestasi cacing gelang. Usus terhalang atau terjepit, dapat menimbulkan rasa sakit, sedangkan kuda sangat sensitif.

Tanda–tandanya adalah bergerak terus menerus, kesakitan, berkeringat, berguling guling dan tentu saja adanya rasa tidak nyaman. Berguling–guling yang menyebabkan terbelitnya usus, merupakan hal yang fatal. Kuda sebaiknya di ikat supaya tidak berguling-guling. Tanda–tanda lainnya adalah bibir menggulung dan kuda menolak untuk makan.

Pengobatannya adalah denggan mengajak kuda berjalan–jalan sampai dokter hewan datang. Minyak mineral sering kali di berikan melalui pipa masuk ke lambung (stomach tube) untuk menghilangkan pemadatan.

Kuda yang mengalami kolik akan merasakan tidak nyaman pada bagian perut maka kuda sering melihat kebagian perut dan menggigit bagian flank. Kuda juga cenderung gelisah serta bangun dan tidur sambil menggaruk–garuk lantai.

Pencegahan yang dapat di lakukan yaitu dengan memberikan pakan yang teratur dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Pemberian laxative, analgesic, sedative, obat spasmolityc, cairan terapi, pengontrolan, pemeliharaan gigi dan manajemen pemeliharaan yang baik.

Sumber:
Blakely, J and D.H.Bade. 1991. Ilmu peternakan(terjemahan). Edisi ke -4. Gadjah Mada University Press; Yogyakarta.
etd.repository.ugm.ac.id
Maswarni; Nofiar, R. 2014. Kuda: Manajemen Pemeliharaan dan Pengembangbiakan . Jakarta Timur: Penerbit Swadaya.

Semoga artikel tentang Penyakit Yang Sering Menyerang Ternak Kuda ini dapat menambah pengetahuan ataupun wawasan kita semua :)


Video 1. Kunjungan & pengobatan rusa

Video 2. Pengobatan anak kucing di Kotabaru Parahyangan :)



 Video 3. Pengobatan paarasit darah pada dogy

Selasa, 22 Agustus 2017

Penyakit Rabies :)

Numpang Iklan : :)
Kalo ada yang berminat jadi relawan ASIAN GAMES 2018 :)

http://volunteer.asiangames2018.id/
Terimakasih


 Penyakit anjing gila (rabies) sudah sangat dikenal walaupun mungkin hanya namanya saja tetapi pemilik hewan kesayangan belum benar-benar menghayati bahayanya penyakit ini, terbukti bahwa walaupun sudah lebih dari seabad ditemukan di indonesia dan pemberantasannya (melalui vaksinasi) dilakukan secara masal tetap saja rabies belum berhasil diberantas.

            Rabies disebabkan oleh virus golongan Rhabdovirus yang akut dan  menular ke semua makhluk hidup yang berdarah panas (termasuk manusia). Di indonesia, rabies merupakan penyakit zoonosis utama.




Gambar 1. Rakun menderita rabies
Gejala dan tanda
secara khusus, gejala dan tanda rabies pada hewan tergantung pada bentuk rabiesnya, ada yang membabi buta (farious form), diam (dump form), serta tanpa bentuk (atypical form).

a.      rabies bentuk membabi buta (farious form)
Gejala hewan yang menderita rabies ini antara lain penderita cenderung berlarian tanpa tujuan, gelisah, menyerang dan menggigit segala objek  (terutama yang bergerak) sehingga sering ditemukan  berbagai benda (kayu, batu, atau plastik) di dalam lambung penderita saat diotopsi, refleks kornea mata hilang, nada suara rendah dan hilang, lidah menjulur, keluar air liur berlebihan, sempoyongan, bergerak tanpa koordinasi, lumpuh, dan akhirnya mati. Air liur yang keluar berlebihan dari mulut penderita banyak mengandung virus rabies.
Selain gejala agresif tersebut, penderita pun sangat haus. Namun, kalau melihat air dan ingin minum biasanya otot-otot leher menjadi kejang sehingga penderita seakan takut air. Oleh karna takut air inilah sehingga pada jaman dahulu penyakit rabies disebut penyakit hydrophobia.

b.     Rabies bentuk diam
Penderita rabies ini akan menjadi apatis, kehilangan vitalitas, suka menyendiri dan sembunyi, jarang menggigit, gemetar, lumpuh, dan akhirnya mati.
c.      Rabies tanpa bentuk
Tubuh penderita akan mengalami gatal, kaku, kejang otot (spasmus), sembelit (susah buang air basar), serta genjala bersifat individual (perilaku sehari-harinya aneh, tidak seperti biasanya).
Gejala dan tanda rabies pada manusia biasanya terjadi setelah korban digigit oleh penderita rabies seperti gelisah, sulit berbicara, luka gigitan terasa nyeri, bengkak, dan merah, sakit kepala, kontraksi otot dan kejang, takut air, sulit bernapas, lumpuh, dan akhirnya meninggal.

Pengobatan
Hingga saat ini, obat dan cara pengobatan rabies pada penderita belum ditemukan. Namun, cara berikut sebagai tindakan P3K dapat dilakukan baik pada hewan atau manusia yang digigit oleh hewan penderita rabies.
a). cuci luka gigitan dengan deterjen di bawah air mengalir selama 5-10 menit, lalu cuci dengan antiseptik seperti alkohol 70%, betadin 1% atau iodium tinktur.
b). Bila korbannya manusia, setelah luka dicuci, korban segera dibewa ke rumah sakit terdekat  agar dokter dapat mengevaluasi luka gigitan tersebut, apakah akan diberikan serum dan atau vaksin antirabies (korban harus mematuhi serial penyuntikannya). untuk daerah bandung dan sekitarnya, korban rabies dapat dibawa ke rumah sakit umum pusat Hasan Sadikin, Bandung.
c). bila korbannya anjing, kucing, dan juga kera, pemilik harus berhati-hati terhadap hewan yang menggigit maupun yang digigit. pemilik harus mengamankan hewan-hewan tersebut agar tidak menggigit hewan lain (terutama saat berkelahi) atau manusia dengan terlebih dahulu menggunakan alat pelindung. Setelah itu, lakukan kasus tersebut ke kantor dinas peternakan terdekat agar hewan yang menggigit dan yang digigit dapat diobservasi.

Pencegahan
Di Indonesia, vaksinasi rabies pada anjing, kucing, dan kera sangat diharuskan menurut  undang-undang. Namun, kontrol terhadapp pelaksanaan undang-undang ini masih sangat lemah, ini terbuktihingga kini penyakit rabies masih merajalela.
Vaksin anti rabies lokal maupun impor yang baik untuk manusia atau hewan sudah lama beredar di pasaran. Vaksin ini dibuat dan dikemas dalam beragam jenis, yaitu vaksin hidup (aktif), vaksin mati (inaktif), vaksin monopalen, dan vaksin polipalen. isi vaksinnya pun ada yang homolog  (dari jenis yang sama) maupun heterolog (dari jenis berlainan). Itulah sebabnya aplikasi vaksin-vaksin antirabies tersebut  sangat bervariasi. Untuk itu, program vaksinasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter hewan.

      Kesehatan Lingkungan
Sudah seabad lebih diberantas, rabies belum berhasil punah dari indonesia meskipun setiap tahun pemerintah melalui dinas peternakan melakukan program vaksinasi masal menggambarkan bahwa haya pemerintah sendiri saja yang memberantas rabies tidak mungkin dilakukan, perlu ada partisipasi masyarakat melalui lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi pemuda, pramuka, hingga PKK. kesadaran memvaksinasi hewan secara teratur harus dimulai dari pemilik  atau penyayang hewan.
Sebagai gambaran atau contoh program pemberantasan rabies antara lain sebagai berikut. Adakan penyuluhan melalui media masa, baik cetak maupun elektronik. penyuluhan tidak hanya dapat dilaksanakan oleh dinas peternakan, tetapi juga oleh organisasi swasta. 

Gambar 2. Ajing yang menderita rabies perlu diisolasi

Terimakasih :)

Semoga bermanfaat 



  Video 1. Penanganan rusa di ciumbuleuit :)


 Video 2. Penanganan rusa di balaraja, Tangerang :)

Video 3. Penanganan anak kucing (kitten) di Kota Baru Parahyangan :)

Semoga bermanfaat

Terimakasih :)


SURAT TANDA REGISTRASI VETERINER (STRV) NASIONAL  1.02.005901.04.2016.005825
https://drive.google.com/file/d/0B4sXzpJN_yxfUm1reWxjSHFwcFU/view?usp=sharing

SERTIFIKAT KOMPETENSI DOKTER HEWAN NASIONAL PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) (Lulus) 1.02.2009.010615.04-16.04.2016/KDHI
https://drive.google.com/file/d/0B4sXzpJN_yxfT0ItdHRwSzZaZkE/view?usp=sharing

Minggu, 30 Juli 2017

Scabies pada anjing, kucing, dan kelinci :)

Selamat Lebaran Teman Teman & Sahabat sahabat Klinik Hewan Happiness yang merayakan
Mohon Maaf Lahir & Batin :)

Scabies dapat dijumpai pada hewan anjing, kucing, dan kelinci dari segala umur (anakan, muda, dan tua). Penyebabnya adalah tungau – tungau Sarcoptes scabei yang amat kecil yang hanya terlihat di bawah mikroskop.

Tempat tempat yang disukai atau predileksi dari tungau Sarcoptes scabei antara lain : kepala, dada, perut bawah, ketiak, dan bagian medial paha.

 Gejala yang tampak, mula – mula kulit terlihat bentol – bentol merah lalu menjadi vesikula. Kalau disertai dengan kuman – kuman (bakteri) sekunder vesikula menjadi pustula. Jika kemudian daerah tersebut digaruk vesikula atau pustula menjadi pecah, eksudasi keluar, menjadi kering dan merupakan kerak atau scutula. Umumnya proses ini diikuti dengan rontoknya rambut. Dan jika digaruk terus menerus terjadilah dermatitis (radang kulit).


Apakah bisa menular ke manusia ?
Seperti juga tungau lain, kelompok sarcoptes dapat menginfestasi ke manusia dan menyebabkan kemerahan dan gatal – gatal pada kulit manusia. Pada bagian yang gatal biasanya terbentuk semacam benjolan kecil. Bila pecah dan terus digaruk, tungau yang ada di dalamnya bisa terus menyebar ke daerah sekitarnya. Rasa gatal yang ditimbulkan oleh tungau scabies cukup mengganggu.


Pengobatan yang bisa dilakukan
  • ·     Segera pisahkan anjing, kucing, dan kelinci yang terinfestasi tungau scabies dengan yang lain, karena mudah menular
  • ·       Mandikan anjing, kucing, dan kelinci dengan sabun atau shampoo yang mengandung sulfur / belerang
  • ·        Salep bagian keropeng kulit dengan kandungan Gamexan 1% atau sulfur 3 – 5 %
  • ·        Injeksi / penyuntikan dengan ivermectine cukup efektif


Semoga bermanfaat :)

    Gambar 1. Kejadian scabies akut pada anjing

    Gambar 2. pada kelinci tampak keropeng / kerak berwarna putih ciri infestasi tungau sarcoptes scabei

    Gambar 3. Kucing yang menderita scabies pada bagian wajah / muka


    Semoga bermanfaat :)

    Video 1. Kunjungan & pemeriksaan rusa di ciumbuleuit bandung :)

    Video 2. Pengobatan kucing distemper @ klinik hewan happiness :)

    Video 3. Penanganan dogy husky Brimob Polda Jabar

    Jumat, 09 Juni 2017

    Program Magang Praktek Mahasiswa :)

    Program Penitipan Hewan Kesayangan Lebaran
    http://klinikhewanhappiness.blogspot.com/2015/06/penitipan-hewan-kesayangan-liburan-2015.html

    Selamat berpuasa bagi temen temen Klinik Hewan Happiness yang menjalankan 

    Awal bulan april ini,, klinik hewan happiness mendapatan beberapa proposal magang,dari teman teman mahasiswa FKH UGM Yogyakarta (calon rekan sejawat) yang sedang libur kuliah antar semester (ganjil & genap). Para mahaiswa terebut mengikuti magang melalui kelompok studi di kampusnya masing masing. Sudah 3 tahun ini program ini berjalan.

    Seperti tahun sebelumnya (kakak-kakak angkatannya), teman-teman belajar tentang sistem  klinik hewan happiness, SOP (Standar Operaional Prosedur) klinik hewan happiness, mengamati pengobatan hewan yang sakit, dan kunjungan ke rusa yang ditangani tim  klinik hewan happiness.




    Semoga kegiatan ini bermanfaat tidak hanya untuk mahasiswa yang magang & dokter hewan yang praktek tetapi juga masyarakat luas yang mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari dokter hewan :)



    Gambar .1. Kunjungan mahasiswa magang ke penangkaran rusa :0

    Gambar 2. surat pengantar dari FKH UGM yogyakarta :>


    Semoga bermanfaat, Terimakasih :>

    Tambahan :

    Video 1. Pemeriksaan rusa di tangerang, banten oleh tim klinik hewan happiness :)

    Video 2. Penanganan dogy husky komandan Kaden A Pelopor Sat Brimob Polda Jabar @ Klinik Hewan happiness :)Ii 

    Video 3. Penganan  dogy gejala parvovirus (muntaber dogy)
    Terimakasih :)

    Sabtu, 06 Mei 2017

    Pengobatan Penyakit Ikan (part I) :)

    Pengobatan penyakit ikan memerlukan pendekatan yang berbeda dengan penyakit hewan di darat, ikan adalah hewan poikilothermal dan sifat perilaku biologis ikan diatur secara pokok oleh temperatur air, pH air, tekanan osmosis air, dissolved gas (gas oksigen terlarut), dan faktor lingkungan lain seperti parasit & protozoa. Faktor kondisi air juga menentukan agen kausatif dapat menyebabkan penyakit di suatu populasi ikan.

    Diagnosa penyakit pada ikan memerlukan beberapa tahapan, observasi (pengamatan) perilaku pada ikan seperti tidak mau makan, bernafas dengan cepat, berenang miring di permukaan, sempoyongan, menggosok gosokan tubuh pada tepi / pinggir kolam perlu diperhatikan. Selain didukung pengambilan (koleksi) sampel dan spesimen diagnostik yang tepat.

    Metode kontrol penyakit pada populasi ikan, meliputi :
    1.       Diagnosa penyebab penyakit
    2.       Karantina dan pembatasan penyebaran ikan
    3.       Pemberian obat – obatan (farmakotherapi) dan sanitasi yang baik
    4.       Imunisasi (vaksinasi) ikan dari penyakit
    5.       Pemutusan siklus hidup agen penyakit

    6.       Pembatasan dan kontrol dari substansi asing yang membahayakan (substansi asing yang bersifat toksik)








    Gambar 1. Tim klinik hewan happiness (khh) dipanggil di salah satu kediaman (rumah) di kota Bandung, mengobati ikan koi yang terinfeksi protozoa dactylogyrus, metode yang digunakan obat tetes pada luka dan dipping air


     Gambar 2. Proses penetesan obat pada luka ikan :)

    Gambar 3. Menghangatkan (meningkatkan) suhu air kolam merupakan salah satu metode mudah untuk memutus siklus hidup agen penyakit, terutama golongan protozoa :)


     Ditunggu masukan dan komentarnya, untuk tulisan yang sedikit ini :). Terimakasih


    Video 1. Kunjungan & pemeriksaan rusa di ciumbuleuit :)


    Video 2.  Pengobatan Kucing rhinotracheitis (influenza) pada Kucing :)

    Video 3. Pengobatan kucing Bengal @klinnik hewan happiness

    Terimakasih :)

    SURAT TANDA REGISTRASI VETERINER (STRV) NASIONAL  1.02.005901.04.2016.005825

    SERTIFIKAT KOMPETENSI DOKTER HEWAN NASIONAL PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) (Lulus) 1.02.2009.010615.04-16.04.2016/KDHI